GMO Internet Tolak Bayar Tebusan 8 Miliar Yen, Peretas Tayangkan Data yang Diklaim Milik Pelanggan Desktop Cloud Onamae.com

Ilustrasi pemerasan siber terhadap GMO Internet, penyedia layanan desktop cloud di Jepang

GMO Internet, perusahaan layanan internet asal Jepang, menolak membayar tebusan sekitar 8 miliar yen (sekitar 50 juta dolar AS) kepada pihak yang mengaku menembus layanan Onamae.com Desktop Cloud. Pada 27 Oktober, pelaku menayangkan informasi yang diklaim terkait GMO dan pelanggannya. GMO menyatakan masih memeriksa keaslian isinya dan mengingatkan bahwa data itu bisa memuat informasi yang keliru.

Kronologi yang diumumkan GMO

Onamae.com Desktop Cloud adalah layanan desktop virtual yang dipakai antara lain oleh pedagang di pasar keuangan. GMO menghentikan layanan itu pada 21 Oktober setelah menemukan akses tak sah, dan pada hari yang sama menerima surel pemerasan. Perusahaan melapor ke polisi pada 22 Oktober, lalu mengumumkan kompensasi dan layanan pengganti pada 24 Oktober. Mulai 25 Oktober, karyawan GMO mengumpulkan komputer pelanggan di seluruh Jepang untuk diperiksa tim keamanannya.

Pelaku mengancam akan membocorkan data pelanggan dan menyerang sistem pelanggan dengan ransomware jika tenggat siang 27 Oktober lewat. Pada pukul 12.30 hari itu, GMO mengonfirmasi pelaku menayangkan informasi yang mereka klaim berasal dari perusahaan dan pelanggan. Hingga pukul 13.55 waktu Jepang, GMO belum menemukan serangan ransomware. Identitas pelaku belum diketahui, dan keaslian data yang ditayangkan belum diverifikasi secara independen.

TechCrunch melaporkan GMO menyebut hingga 27.000 server mungkin terdampak. Angka itu menunjukkan server yang berpotensi terpapar, bukan jumlah korban yang sudah terkonfirmasi. TechCrunch juga mencatat ada laporan transaksi tak sah di akun perdagangan pelanggan, sehingga GMO menyarankan penggantian kata sandi. GMO sendiri menyatakan tidak akan membayar karena pembayaran tidak menjamin data dihapus atau mencegah penyalahgunaan. Perusahaan menyiapkan santunan tetap 5.000 yen dan sedang membahas kompensasi tambahan bagi pelanggan yang datanya terbukti ada di data yang ditayangkan.

Langkah yang perlu diambil pelanggan dan pembaca

Pelanggan Onamae.com Desktop Cloud diminta mencadangkan berkas penting, memutus PC dari jaringan, lalu mematikannya. Lakukan pemindaian antivirus penuh, bukan pemindaian cepat. Amankan akun dari perangkat lain yang bersih lewat situs resmi, bukan lewat tautan di surel atau SMS: akhiri sesi aktif, ganti kata sandi, aktifkan autentikasi multifaktor, dan hapus aplikasi tertaut, aturan penerusan surel, ekstensi, atau perangkat terdaftar yang tidak dikenal. GMO menegaskan tidak pernah meminta kata sandi atau kode autentikasi, dan melarang pelanggan mengakses atau menyebarkan data yang diklaim bocor. Waspadai juga tawaran berbayar untuk “memulihkan kerugian”, yang menurut GMO tidak boleh ditanggapi.

Bagi pembaca di Indonesia, kasus ini relevan bagi siapa pun yang memakai desktop virtual atau layanan cloud milik penyedia Jepang untuk perdagangan atau pekerjaan. Insiden ini juga menyusul pengakuan Sony soal kebocoran data pelanggan So-net dan plala yang kami tulis sehari sebelumnya. Periksa riwayat transaksi di akun perdagangan Anda, dan segera laporkan aktivitas yang tidak dikenal ke penyedia layanan.

Sumber: laporan kesepuluh GMO Internet, TechCrunch, dan GBHackers. Gambar: GBHackers.