TrendAI: Agen AI CyberStrikeAI Otomatiskan Serangan ke Sedikitnya 19 Organisasi, 16 di Antaranya di Jepang

Ilustrasi laporan TrendAI tentang serangan berbantuan AI terhadap organisasi di Jepang

TrendAI, divisi keamanan perusahaan milik Trend Micro, menerbitkan analisis tiga insiden yang menunjukkan bagaimana penyerang memakai kecerdasan buatan untuk menyerang organisasi di Jepang. Dalam kasus yang paling otomatis, penyerang memakai CyberStrikeAI, alat uji penetrasi sumber terbuka berbasis agen AI, dan membagi pekerjaan ke 44 agen. Laporan versi Inggris terbit 27 Oktober 2026, setelah versi Jepangnya muncul empat hari sebelumnya.

Tiga kasus, tiga tingkat peran AI

Pada kasus A, AI menjalankan hampir seluruh siklus serangan: pengintaian, pencarian dan validasi celah, eksploitasi, komunikasi komando, persistensi, pencurian data, sampai pembuatan laporan otomatis. Sedikitnya 19 organisasi yang bisa diidentifikasi menjadi sasaran validasi dalam waktu singkat pada Oktober 2026, dan sedikitnya 16 di antaranya berada di Jepang. Setiap target punya laporan berformat sama dengan indeks bukti, yang menurut TrendAI menandakan proses terstruktur oleh platform, bukan catatan operator biasa. Penyerang juga membuat formulir dan halaman login palsu berbahasa Jepang.

Kasus B adalah operasi yang dipimpin manusia dengan bantuan model bahasa untuk perencanaan dan pembuatan alat. Aktivitasnya berlangsung Agustus sampai September 2026 dan menyasar sistem web warisan serta infrastruktur AI dan GPU yang terbuka ke internet. TrendAI mencatat sedikitnya 6.000 alamat IP Jepang dipindai. Pada kasus C, AI hanya membantu menulis alat dan skrip. Sasarannya perangkat VPN dan server Oracle WebLogic, dengan sedikitnya 1.300 kandidat WebLogic dan 35 titik masuk VPN. Produk yang disebut mencakup Cisco SD-WAN, Citrix NetScaler, F5 BIG-IP, dan Yamaha RTX1210.

TrendAI tidak menemukan bukti bahwa ketiganya berasal dari operator yang sama, dan tidak menemukan zero-day hasil temuan AI. Hanya sebagian kecil target yang benar-benar dibobol dalam. Keluaran AI itu sendiri punya kelemahan, seperti penilaian diri yang terlalu optimistis dan rencana yang dicatat seolah sudah dikerjakan, dan TrendAI menyebut hal ini bisa menjadi petunjuk deteksi. Kasus serupa di Korea Selatan, yaitu peretas yang memakai alat AI untuk menjebol puluhan organisasi, pernah kami tulis sebelumnya.

Langkah yang perlu diambil pembaca

Pesan utama laporan ini sederhana: AI mempercepat dan memperluas serangan, tetapi pintu masuknya masih yang lama. Tim keamanan sebaiknya mendata semua sistem web yang menghadap publik, memperbarui atau mengisolasi platform warisan, dan memeriksa kata sandi bawaan serta panel administrasi yang terbuka. Konfigurasi VPN dan perangkat tepi perlu dikelola ketat, termasuk pemeriksaan penggunaan ulang kredensial.

TrendAI juga menyarankan organisasi memastikan layanan AI internal, seperti inferensi, alur kerja, dan infrastruktur GPU, tidak terbuka ke internet. Pemantauan perlu mampu menangkap percobaan berfrekuensi rendah yang tersebar di banyak target. Tambalan sebaiknya dipasang cepat, dengan virtual patching bila perbaikan belum bisa diterapkan, sebab jarak antara pengumuman celah dan eksploitasi bisa makin pendek.

Bagi pengelola server di Indonesia, laporan ini tidak menyebut target di sini. Namun alat yang dipakai bersifat terbuka dan perangkat yang disasar umum dipakai di banyak negara, jadi daftar periksa di atas tetap relevan.

Sumber: laporan TrendAI dan The Hacker News. Gambar: TrendAI.