Komisi Pemilihan Federal Amerika Serikat (FEC) menghentikan sistem pelaporan elektroniknya sejak Senin malam, 26 Oktober 2026, setelah dugaan upaya penerobosan. Menurut Reuters yang dikutip IBTimes UK, seorang petugas pelaporan elektronik FEC mengirim surel ke sejumlah firma kepatuhan kampanye dan menulis bahwa ada “pihak jahat yang mencoba menembus sistem FEC”. Pemilu sela AS digelar 3 November.
Apa yang terdampak
Petugas itu menyebut FEC harus mematikan sementara layanan yang terhubung ke internet. Akibatnya, tim kampanye tidak bisa mengirim laporan pengeluaran 24 jam dan 48 jam, yang merinci belanja pada lomba tertentu. Layanan pengajuan FECfile+ juga mengalami gangguan terkait. Laporan yang sudah diajukan sebelumnya masih bisa dicari publik, tetapi data pengeluaran terbaru belum muncul.
Halaman status FEC mencatat penyelidikan pada pukul 22.15 waktu timur AS tanggal 26 Oktober. Pada pukul 20.17 tanggal 27 Oktober, FEC menyatakan sudah mengidentifikasi masalah dan sedang menerapkan perbaikan. Pernyataan itu tidak menyebut sistem sudah pulih, dan hingga laporan terakhir yang kami baca sistem pengajuan masih offline. FEC menolak memberi komentar lebih jauh. CISA mengarahkan pertanyaan ke FEC, sementara FBI belum menanggapi permintaan komentar Reuters.
Yang belum diketahui
Belum ada pihak yang diidentifikasi sebagai pelaku, dan belum ada keterangan soal cara masuk atau celah yang dipakai. Tidak ada nomor CVE yang disebut dalam laporan mana pun. Cyber Security News menegaskan bahwa pemadaman ini tampak sebagai langkah bertahan, bukan bukti penerobosan berhasil. Belum ada bukti data dicuri, laporan diubah, ransomware, atau akses yang bertahan. Semua keterangan soal dugaan serangan ini masih bersumber dari surel internal yang dikutip Reuters, jadi perlu dibaca sebagai klaim awal.
Reuters menyebut gangguan ini tidak seharusnya memengaruhi hak pemilih untuk mencoblos, karena FEC tidak menjalankan pemilu. Dampak yang nyata ada pada transparansi. Brendan Glavin dari OpenSecrets menyebut laporan-laporan itu sebagai satu-satunya cara melacak belanja di menit-menit akhir pemilu, dan menurut OpenSecrets kelompok super PAC serta dark money membelanjakan rata-rata lebih dari 50 juta dolar AS per hari pada pekan sebelumnya. Steven Mele dari MBA Consulting Group mengatakan ia belum pernah melihat kejadian seperti ini dalam 26 tahun.
Langkah yang perlu diambil pembaca
Pembaca di Indonesia tidak perlu menambal apa pun karena tidak ada celah perangkat lunak yang diumumkan. Pelajarannya ada pada pengelola layanan publik: siapkan prosedur mematikan layanan yang terhubung ke internet secara terukur, sediakan jalur pelaporan cadangan agar kewajiban hukum tetap bisa dipenuhi saat sistem utama offline, dan umumkan status gangguan secara berkala. Jurnalis dan peneliti yang memantau dana kampanye AS sebaiknya memeriksa halaman status FEC sebelum memakai data yang tampak belum lengkap.
Sumber: Cyber Security News dan IBTimes UK. Gambar: Cyber Security News.
